Lima cara sederhana mengembangkan kemampuan verbal anak
autis
oleh:
Johanna Ririmasse
Dibawah ini ada lima cara sederhana yang dapat dilakukan
orang tua atau terapis untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, antara lain:
Permainan tiba-tiba merupakan permainan tidak terencana tapi
mengasyikan, karena mengajari anak bicara dari apa yang menarik perhatiannya
saat itu. Misalnya, anak tertarik pada kaleng bekas yang kebetulan tergeletak
di lantai. Lantas anak mengambil, membuka dan menutup kaleng tersebut.
Permainan tiba-tiba ini dapat dilakukan juga pada saat anak tertarik pada
gambar kesukaannya, misalnya gambar gajah. Orang tua atau terapis bisa
mengikuti tingkah anak menunjuk sambil menyebutkan nama "gajah" pada
gambar yang ditunjuk. Bila anak tertawa dan senang tingkahnya diikuti oleh
orang tua atau terapis secara berulang–ulang, hal ini akan memancing anak untuk
meniru orang tua atau terapis tanpa disadarinya. Maka kesempatan ini dapat juga
digunakan untuk mengajari anak menyebutkan nama binatang yang ada digambar
selain gajah, seperti sapi, domba, kucing dan sebagainya. Selanjutnya, bisa
juga dikembangkan menjadi dua kata, seperti "gajah abu-abu",
"gajah India", atau..."susu sapi", "domba putih",
dan seterusnya.
2. LOMBA MENAMAI BENDA
Permainan berikutnya adalah lomba menamai benda. Untuk
mempraktekan cara ini, orang tua atau terapis membutuhkan gambar–gambar yang
sudah dikenal dan akan dinamai. Misalkan, gambar topi, burung, sepatu, apel,
gajah, dan sebagainya yang dapat dipotong dari majalah bekas. Kemudian membuat
lomba dengan instruksi yang sederhana pada anak. Misalkan, "lari, pegang
gambar topi, lalu sebutkan "topi". Setelah instruksi diberikan, orang
tua atau terapis lari bersama anak untuk memegang gambar topi sambil berteriak,"topi".
Permainan ini dapat juga dikembangkan dengan menyebutkan dua kata, seperti,
topi merah, topi baru, topi sekolah (bila memang itu gambar topi sekolah), dan
sebagainya.Permainan lomba menamai benda akan lebih menyenangkan bila mengajak
saudara, teman, atau anak tetangga yang sebaya dengan anak. Tapi, sebaiknya
permainan cukup melibatkan anak dengan dua pemain lainnya, agar anak lebih
mudah meniru, dan tetap dapat mengikuti permainan dengan baik. Supaya permainan
lomba menamai benda ini lebih menantang, maka gambar-gambar yang akan dinamai
di tempelkan agak tinggi, agar anak harus melompat saat menyentuh gambar yang
akan dinamai tersebut.
3. LAGU ATAU NYANYIAN
Lagu adalah cara menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan
verbal anak, karena umumnya anak-anak suka sekali bernyanyi. Melalui bernyanyi
anak dapat belajar mengucapkan lirik lagu tersebut satu persatu.
Mengajari anak menyanyi dapat dimulai dari lagu pendek dan
sederhana, yang tentunya sangat disukai oleh anak, misalkan "Topi Saya
Bundar", "Kepala Pundak Lutut Kaki", "Balonku Ada
Lima", atau "Aku Punya Anjing Kecil". Selain itu, lagu juga
dapat memperkaya imajinasi anak, dimana lirik lagu tersebut diubah sesuai
dengan karakter lagu.
4. MENONTON TELEVISI
Sebenarnya, nonton televisi dapat dijadikan sarana untuk
mengajar anak berbicara dan komunikasi, asalkan orang tua atau terapis mau
menyediakan waktu untuk nonton bersama. Hal pertama yang perlu dilakukan
sebelum mengajari anak berbicara melalui nonton tivi, adalah mengetahui film
apa yang menjadi kesukaan anak, seperti film Teletubbies, Donal Bebek, dan
sebagainya. Kedua, mengetahui sejauh mana kemapuan anak dalam mengenal konsep,
seperti warna, bentuk, jumlah, benda, dan sebagainya. Hal ini akan membantu
saat meminta anak menceritakan apa yang ditonton pada orang tua atau terapis.
Misalkan,"siapa sih yang naik skuter?"; "baju Lala warnanya apa
sih?" dan sebagainya. Sebaiknya, jangan minta anak menceritakan sesuatu di
dalam film yang tidak diketahuinya, seperti menyebutkan warna baju yang dipakai
Lala sementara anak belum tahu tentang warna. Tetapi, sebaiknya diberitahu dulu
apa yang sedang ditonton pada anak saat itu, lalu ditanyakan kembali pada
kesempatan yang berbeda.
5. PERMAINAN BERPURA-PURA
Permainan berpura-pura atau Pretend Play merupakan salah
satu cara lain untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, melalui skenario
pendek yang dibuat dari permainan yang dipilih, contohnya "Pura-pura jadi
dokter". Orang tua atau terapis dapat membuat skenario pendek antara
seorang dokter dengan pasiennya. Dimana orang tua atau terapis menjadi dokter
dan anak menjadi pasien.
Untuk membantu anak dalam bermain, dibutuhkan satu orang
terapis untuk menjadi model bicara pada awalnya. Atau, sebelum permainan
dilakukan, ajari anak menghapal dialog yang diminta. Bila anak sudah mengikuti
permainan dengan baik, maka skenario dapat dikembangkan lebih panjang lagi.
Disamping itu, anak juga dapat bertukar peran dalam kesempatan yang berbeda,
dimana anak yang menjadi dokter dan terapis atau orang tua yang menjadi pasien.
artikel sudah cukup lengkap , namun alangkah baiknya jika di beri gambar agar terlhat lebih menarik
BalasHapus