PERILAKU ANAK AUTIS
1. Perilaku
sosial
Anak – anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan
dalam rutinitas sehari – hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama.
Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh ; mereka akan
marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa
dilewati, atau posisi furniture didalam kelas berubah dari semula.
Anak – anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang
dirinya sendiri ( self stimulating) seperti mengepak – ngepakkan tangan
( hand flapping) mengayun – ayun tangan kedepan dan kebelakang, membuat
suara - suara yang tetap ( ngoceh) atau menyakiti diri sendiri ( self
inflicting injuries) seperti menggaruk –garuk , kadang sampai terluka, menusuk
– nusuk . perilaku yang merangsang dirinya sendiri ( self stimulating) lebih
sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi
sosial berbeda ( iwata et all,1982 dalam Kathleen Ann Quill,1995). Perilaku ini
lebih sering terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang
sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas – tugas yang harus
dikerjakannya dan berkurang setelah anak belajar berkomunikasi. ( carr &
Durrand, 1985, dalam Kathleen Ann Quill.1995).
2.
Perilaku komunikasi
Dalam komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa ( initiator)
sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan
bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk emenuhi kemampuan ( competent)
dalam keterampilan pragmatis anak harus mengetahui dan memahami kedua eran
tersebut, sebagai pemrakarsa dan sebagai penerima pesan. ( Watson, 1987, dalam
Kathleen Ann Quill,1995). Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam
pragmatis ( Baron, Cohen , 1988 dalam Kathleen ,1995). Untuk peran pemrakarsa
dalam berkomunikasi, anak autistic mengalami kesulitan dalam memulai percakapan
atau pembicaraan ( Feidstein, Konstantereas, Oxman , & Webster, 1982 dalam
Kathleen Ann Quill, 1995). Ketika berbicara , mereka cenderung meminta orang
dewasa untuk mengambil mainan, makanan, atau minuman, mereka jarang
menyampaikan tindakan yang komunikatif seperti menjawab orang lain,
mengomentari sesuatu, mengungkapkan perasaan atau menggunakan etika social
dalam pengucapan terimakasih atau meminta maaf.
Anak –anak autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi
dan merespon pada orang tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan ( deal )
yang konsisten. Contoh orang dewasa yang bertanya : “kamu mau maka apa?”. Dana
anak mungkin menjawab dengan memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar
kue atau bahkan mungkin dengan kata –kata. Ini merupakan peningkatan komunikasi
karena anak mengakui orang dewasa sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi
dan memahamio permintaan guru yang ditujukan kepadanya. Dalam permintaan ini
anak sebagai penerima dan penjawan pertanyaan itu. ( Kathleen Ann Quill.1995)
Ada beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki seorang
anak autis yang non verbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu
memahami sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siap dia berkomunikasi,
ada sesuatu yang dikomunikasikan dan makna dari dari komunikasi. Didalam
komunikasi apabila seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami
kesulitan dalam meminta seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya
untuk mengambil ditempat penyimpanan ( rak ) yang paling tinggi. Tanpa
penalaran sebab akibat anak tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari
orang lain. Memiliki keinginan berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas
yang sulit untuk anak – anak autis non verbal, selama ini satu diantara
tantangan mereka adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain
dalam cara yang diharapkan. Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan
ketertarikan pada orang lain. Alasan utama dari pernyataan ini karena miskinnya
hubungan sebab akibat yang telah dibicarakan diatas. Jika seorang anak tidak
memahami bahwa seseorang dapat membantunya atau anak tidak memahami bahwa
tindakan akan mengakibatkannya mendapatkan sesuatu.
Sering kali guru berperan sebagia pemrakarsa dalam meningkatkan
komunikasi dengan anak autis dan anak biasanya menjadi responder Anak harus
belajar menunggu dengan sabar supaya guru menunjukkannya dan dia akan menerima
yang diinginkannya. Anak perlu kesempatan untuk meminta benda dengan bebas atau
mengawalipercakapan. Jika anak autis tidak memiliki sesuatu untuk dia bicarakan
dia akan tetaptidak berkomunikasi (noncomunicatif). Dari uraian diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa prilaku anak autistik yang menghambat
interaksinya dengan orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku yang nampak
seperti :mengabaikan orang lain ( tidak merespon ketika diajak berbicara),
tidak dapat mengekspresikan emosi secara tepat ( tidak tertawa melihat yang
lucu , tidak memperlihatkan perasaan senang, takut atau sakit dalam mimic
mukanya), terobsesi dengan kesamaan ( kaku), tidak mampu mengungkapkan
keinginannya secara verbal atau mengkompensasikannya dalam gerakan. Sulit untuk
memulai percakapan atau pembicaraan, jarang melakukan tindakan yang
komunikatif, jarang menggunakan kata – kata yang menunjukkkan etika sosial,
atau mengungkapkan perasaan atau mengimentari sesuatu echoldia (
membeo), nada bicara monoton , salah menggunakan kata ganti orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar