Translate

Rabu, 13 November 2013

perilaku anak autis


PERILAKU ANAK AUTIS
1.   Perilaku sosial
Anak – anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari – hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh ; mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furniture didalam kelas berubah dari semula.
Anak – anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri ( self stimulating) seperti mengepak – ngepakkan tangan ( hand flapping) mengayun – ayun tangan kedepan dan kebelakang, membuat suara - suara yang tetap ( ngoceh) atau menyakiti diri sendiri ( self inflicting injuries) seperti menggaruk –garuk , kadang sampai terluka, menusuk – nusuk . perilaku yang merangsang dirinya sendiri ( self stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda ( iwata et all,1982 dalam Kathleen Ann Quill,1995). Perilaku ini lebih sering terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas – tugas yang harus dikerjakannya dan berkurang setelah anak belajar berkomunikasi. ( carr & Durrand, 1985, dalam Kathleen Ann Quill.1995).
2.   Perilaku komunikasi
Dalam komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa ( initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk emenuhi kemampuan ( competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus mengetahui dan memahami kedua eran tersebut, sebagai pemrakarsa dan sebagai penerima pesan. ( Watson, 1987, dalam Kathleen Ann Quill,1995). Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis ( Baron, Cohen , 1988 dalam Kathleen ,1995). Untuk peran pemrakarsa dalam berkomunikasi, anak autistic mengalami kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan ( Feidstein, Konstantereas, Oxman , & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Ketika berbicara , mereka cenderung meminta orang dewasa untuk mengambil mainan, makanan, atau minuman, mereka jarang menyampaikan tindakan yang komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapkan perasaan atau menggunakan etika social dalam pengucapan terimakasih atau meminta maaf.
Anak –anak autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi dan merespon pada orang tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan ( deal ) yang konsisten. Contoh orang dewasa yang bertanya : “kamu mau maka apa?”. Dana anak mungkin menjawab dengan memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar kue atau bahkan mungkin dengan kata –kata. Ini merupakan peningkatan komunikasi karena anak mengakui orang dewasa sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi dan memahamio permintaan guru yang ditujukan kepadanya. Dalam permintaan ini anak sebagai penerima dan penjawan pertanyaan itu. ( Kathleen Ann Quill.1995)
Ada beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki seorang anak autis yang non verbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu memahami sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siap dia berkomunikasi, ada sesuatu yang dikomunikasikan dan makna dari dari komunikasi. Didalam komunikasi apabila seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami kesulitan dalam meminta seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya untuk mengambil ditempat penyimpanan ( rak ) yang paling tinggi. Tanpa penalaran sebab akibat anak tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari orang lain. Memiliki keinginan berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas yang sulit untuk anak – anak autis non verbal, selama ini satu diantara tantangan mereka adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dalam cara yang diharapkan. Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan ketertarikan pada orang lain. Alasan utama dari pernyataan ini karena miskinnya hubungan sebab akibat yang telah dibicarakan diatas. Jika seorang anak tidak memahami bahwa seseorang dapat membantunya atau anak tidak memahami bahwa tindakan akan mengakibatkannya mendapatkan sesuatu.
Sering kali guru berperan sebagia pemrakarsa dalam meningkatkan komunikasi dengan anak autis dan anak biasanya menjadi responder Anak harus belajar menunggu dengan sabar supaya guru menunjukkannya dan dia akan menerima yang diinginkannya. Anak perlu kesempatan untuk meminta benda dengan bebas atau mengawalipercakapan. Jika anak autis tidak memiliki sesuatu untuk dia bicarakan dia akan tetaptidak berkomunikasi (noncomunicatif). Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prilaku anak autistik yang menghambat interaksinya dengan orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku yang nampak seperti :mengabaikan orang lain ( tidak merespon ketika diajak berbicara), tidak dapat mengekspresikan emosi secara tepat ( tidak tertawa melihat yang lucu , tidak memperlihatkan perasaan senang, takut atau sakit dalam mimic mukanya), terobsesi dengan kesamaan ( kaku), tidak mampu mengungkapkan keinginannya secara verbal atau mengkompensasikannya dalam gerakan. Sulit untuk memulai percakapan atau pembicaraan, jarang melakukan tindakan yang komunikatif, jarang menggunakan kata – kata yang menunjukkkan etika sosial, atau mengungkapkan perasaan atau mengimentari sesuatu echoldia ( membeo), nada bicara monoton , salah menggunakan kata ganti orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar