Nurul Ulfah – detikHealth
Autis terjadi pada 1 dari 700 orang dan
lebih banyak terjadi pada laki-laki. Gejala autis biasanya sudah bisa terlihat
sejak umur 18 bulan hingga 3 tahun. Beberapa tanda autis juga bisa diketahui
sejak bayi.
Anak autis memiliki perkembangan otak
yang tidak biasa dan menghasilkan sikap introvert (tertutup), tidak mau
berinteraksi dengan lingkungan dan mungkin menjengkelkan bagi sebagian orangtua
karena sikapnya yang seakan-akan tidak menurut.
Seperti dikutip dari Disabledworld, Selasa (16/2/2010), berikut ini
beberapa gejala autis yang bisa dideteksi mulai dari bayi hingga tahun kelima
pertumbuhan anak:
Baru Lahir
Sejak bayi, anak autis biasanya tidak
bisa merasakan atau merespons kehadiran orangtuanya. Ia tidak akan tertarik
untuk melakukan kontak mata dan cenderung tertarik dengan objek yang bergerak.
Bayi autis juga lebih banyak diam dan tidak menangis selama berjam-jam.
Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang
umumnya dicapai anak anak dalam usia setahun antara lain berdiri dengan bantuan
orangtua, merangkak, mengucapkan sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan,
tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya.
Jika anak tidak dapat melakukan
kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai
kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untuk waspada dan segera periksakan
jika anak tak mencapai satu pun kemampuan umum diatas.
Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas
jika anak tidak tertarik pada ibunya atau orang lain, jarang menatap atau tidak
terjadi kontak mata, tidak menunjuk atau melihat pada objek yang diinginkan,
tak dapat mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia
kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tangan atau mengayunkan
tubuh ke depan-belakang, tidak suka bermain, sering berjalan berjinjit.
Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua,
semua yang terjadi pada tahun sebelumnya di atas dengan tambahan terobsesi oleh
suatu objek tertentu seperti mainan atau game, sangat tertarik dengan suatu
rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau
susunan benda terganggu, sensitif terhadap suara keras yang sebenarnya tidak
mengganggu anak lainnya dan sensitif terhadap sentuhan orang lain seperti tak
suka dipeluk.
Jika bayi memiliki salah satu atau
beberapa gejala di atas, segera periksakan ke dokter spesialis untuk meyakinkan
kekhawatiran orangtua dan meringankan beban mental sedini mungkin.
Tapi jika anak didiagnosa autis, jangan
lekas merasa bersalah dengan menyalahkan diri karena tidak menjaga kandungan
dengan baik selama kehamilan. Perlu diingat, lahirnya anak autis bukan
kesalahan ibunya. Bahkan hingga kini penyebab autis masih belum dapat
dipastikan.
Sebaliknya, usahakan tetap memberikan
cinta dan kasih sayang layaknya pada anak normal. Anak autis hanyalah anak yang
punya kondisi otak berbeda dengan anak lainnya. Sadari pula bahwa anak autis
adalah anak spesial karena memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak umumnya,
oleh karena itu penanganannya pun harus spesial.
Lakukan konsultasi secara rutin dengan
pakar dan jika perlu, masukkan anak ke sekolah khusus. Tapi jika kondisinya
masih sedang dan tidak terlalu berat, cukup beritahukan pada gurunya bahwa ia
butuh perhatian khusus. Yang perlu diketahui pula, penderita autis bisa
disembuhkan asal rajin dan telaten mengawasi anak tersebut.
Jadi ketika suatu hari orangtua menyadari
bahwa sampai usia 3 tahun anak tetap tidak memberi respons atau tidak bersikap
interaktif seperti anak-anak lainnya, orangtua patut curiga 'Mungkinkah anak
saya autis?'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar